aku terlahir sebagai anak pertama yang kembar di keluarga, kehidupan kami biasa-biasa saja, tidak pernah mengalami kesulitan yang berarti di masa kecilku, kami berdua lahir di pertengahan tahun 24 tahun silam. aku sebagai adik yang mepunyai kakak kembar yang cantik, kak lana namanya.

beranjak ke jenjang SD Allah menambahkan kebahagiaan kepada keluarga kecilku, adik yang berselang 10 tahun denganku lahir, dia sangat tampan menurutku namanya Zaza, zaza tumbuh dan berkembang dengan sehat hingga kami si kembar di sekolahkan di pondok pesantren dekat rumah nenek, tahun ketiga kami di pondok Allah memberi kado terindah lagi, dengan lahirnya adik bungsuku yang kuberi nama Jaja, jaja juga sangat tampan dan lucu. bahkan sampai sekarang dia sudah SD tetap sama sangat ganteng dimataku.

kehidupan keluargaku yang utuh tiba-tiba runtuh dilanda nestapa di awal tahun lalu, berkat firasat serta dugaan seorang bunda , tampaklah beberapa perubahan dari sikap seorang Bapak. Bapak yang biasanya manis dan hangat terhadap anak-anaknya, kini beralih menjadi dingin dan kasar. apakah yang membuat Bapak menjadi berubah? gumam kami

Tepat bulan april 2015 Bapak meninggalkan rumah dengan meninggalkan kesan buruk di rumah, dengan alasan kebun kakek terjual beliau pamit akan mencoba belajar pengobatan alternatif sebagai usaha barunya kelak, hari itu awan hitam mulai meredupkan hariku.

aku dan kakak pamit merantau jua dengan harapan akan bisa sedikit membantu ekonomi keluarga kami, selang dua bulan di rantau aku mendapat telfon dari seorang Bapak tercinta, suaranya parau , serak tangisnya membelenggu benakku ada apa gerangan? Bapak berkata" Maafkan Bapak ya nak, bapak khilaf , Bapak jatuhkan talak ke Bundamu.............." 

DUARRRRR, bagai ledakan bom horosima atau terjangan tsunami menerjang hidupku kala itu, hancur luluh lanatak bagai debu. begitu juga dengan kak Lana, ia langsung tak sadarkan diri di tempat kerjanya. orang tua bercerai, hidupku terhenti mati sampai disini, pikirku kala itu.

pikiran lebih gila menjumpai benakku, aku pulang ke rumah, Bunda menyambut dengan senyum meski ku tahu itu senyum pahit yang beliau sembunyikan dariku.

aku peluk tubuh Bundaku yang semakin kurus, tak bisa kubendung luapan air mata yang telah lama tumpah, Bunda dengan kuat berkata " nggak pa pa nduk, seng kuat".....

Allahu Akbar harusnya aku yang menguatkan beliau, ini malah aku yang tumbang dimakan kesedihan, hanya rasa perih yang ku rasa perih dan begitu sakit.


saat aku di rumah itulah baru semua terkuak, "Bapakmu menikah lagi nduk....

jantung yang berdenyut makin kencang menahan amarah, sampai akhirnya aku berteriak, kurang apa Bundaku ini Ya Allah............

yang jelas batinku sendiri menjawan kurang syukur Bapakmu itu

perselingkuhan dan pernikahan keduanya tak mau disalahkan, beberapa caci maki untuk kami selalu digulir dari sosok bapak yang dulu sangat kucinta, kini justru kebencian yang beliau sematkan di lembar-lembar hati kami, kami berempat sebagai anak-anaknya yang sebenarnya tak boleh ada benci dalam hidup kami.

kami ini korban Pak.....

Bapak tega melakukan ini semua, tak ingatkah masa indah kita dulu bersama, tak ingatkah betapa indahnya masa Bapak melamar Bunda, hingga kelahiran kami berempat? saat mengadzani telinga kami?

tak ingatkah betapa bapak bahagia menjemput kami dari sekolah? mengambil raport kami, menunjukkan kasih seorang ayah pada yang anaknya berprestasi?  hingga terakhir wisuda anak sulung Bapak ini?


kini bagiku semua kebahagian itu tinggal puing-puing kenangan lang telah usang. dengan egois bapak selalu menjawab dengan congkak, "aku seperti ini gara-gara Bundamu, dan keluargamu, jangan salahkan aku selingkuh, kamu pun jadi anak tak bisa membahagiakan bapak, bapak bangkrut gara-gara kuliahin kamu....."


jderrr bener, padahal faktanya beliau bangkrut karena keluarga telilit hutang karena bosnis yang gagal, diperparah dengan hutang pada rentenir, kiamat.

itu juga yang aku sdari kala bahagiaku berlalu dan musibah datang seperti hujan yang tak pernai usai.


kini sedikit dei sedikit ku rajut benang tuk balut luka yang masih menganga. lukaku masih tak seberapa dibanding Bunda, Oh Allah, jaga Ibunda tercintaku. Amin



kau tahu kawan kehidupan memang seperti ini, ada takdir baik tentu saja ada takdir buruk yang harus kita terima, ada tawa ada duka, ada bahagia ada nestapa, ada pertempuan ada perpisahan, ada kehidupan serta ada kematian.


di masa menghabiskah waktu dan langkah menuju kematian, aku hanya memohon pada Sang Pencipta

"Berkahi sisa hidupku, Izinkan aku bahagiakan bundaku, Hilangkan penyakit hati dan rasa benci yang mengotori batinku, Ikhlaskan aku terhadap segala takdirku, dan akhiri hidupku saat aku dipuncak iman kepada-MU Ya Rabbi, kumpulkan aku dan bundaku bersama Rasulullah ....di surgaMu nanti, Aminnn Allahumma Aminnnn



ceritaku bersambung sampai disini kawan, next time akan banyak lag9i cerita-cerita yang datang dari kehidupan pribadiku. 



(Batam, 7 april 2016)

Komentar